| Para pengurus yang baru yang sedang di lantik |
Pengurus Ubudiyah: Antara Prospek dan Realita
Banyak orang berlomba-lomba dalam kebaikan karena mereka ingin mencari
ridho-nya. Komplimen yang mereka
sanjungkan sangat mewarnai corak islam, menyuguhkan resep ibadah semata mata
hanya untuk kepada sang kuasa. Beribadah kepada Allah sangat kompatible sekali,
apabila di lakukannya dengan khusuk dan ikhlas.
Tapi pada realitanya, setelah munculnya zaman teknologi informasi yang mengurita di dunia ini. Orang
orang sangat kompleksitas dan amburadul dalam melaksanakan ibadah kepada Allah
SWT. Entah mengapa, mungkin sikap extrem kemalasan yang terisolasi pada diri
seseorang sangatlah mengakar.
Pada adat atau kebiasaannya pondok pesantren menghidangkan koersi
ubudiyah untuk lebih tertib dan kordial dalam beribadah kepada Allah SWT.
Tugas ubudiyah tak lain adalah melaksanakan kegiatan rutinitas
beribadah( Pengajiann,Pembacaan tahlil, Dzikir dll ).membersihkannya tempat
ibadah, mengatur tertibnya beribadah kepada Allah SWT.
Ketika melihat sepintas tempat beribadah ( Mushollah ) wilayah
jalaluddin ar-rumi, Ponpes Nurul Jadid, memang layak di adakan pengurus
ubudiyah, seakan menjanji kan tidak ada persoalan dan berjalan begitu indah dan
rindang.
Namun di balik indah dan rindangnya itu ada seribu penderitaan yang
mencekik dan menusuk pada hati peserta didik. Mengapa demikian, coba kita lihat
kondisi saat ini di wilayah tercinta, khususnya musholla, kita di paksa untuk
mengikuti peraturan yang ada, akan tetapi penegak hukum ( pengurus ubudiyah )
melanggar peraturan tersebut tanpa ada sedikit risih dan tak bersalah
menampakkan pelanggaran tersebut di depan para objek ( santri ) hukum.
Pengurus ubudiyah, tak ubahnya sebilah pisau, yang tajam kebawah namun
tumpul ke atas. Hal ini bisa di lihat dari hari hari yang berlalu, pemandangan
yang tidak mengenakan mata menjadi pandangan menu utama dalam setiap pelaksanaan kegiatan
ubudiyah. Terlebih kehadiran subuh, maghrib, dan isya ktia di paksa dan di
jejali untuk tidak lambat dalam mengikuti kegiatan ubudiyah tersebut,
akan tetapi pengurus ubudiyah malah menikmati hidangan hedonis dengan ngerumpi
dan tidur-tiduran.
Sungguh hal ini sangat menyakitkan dan menyesakkan dada, belum lagi
persoalan demonstrasi ubudiyah kepada siswa dengan acara memukul yang tidak
benar di dalam musholla ketika kegiatan
sedang berlangsung. Mana ada pengurus ubudiyah seperti itu ?
Mengerikan dan menyakitkan kerasanya melihat kenyataan yang jauh
melenceng dari tujuan dan harapan, semestinya menjadi dan memberikan tauladan
yang baik, malah memberikan contoh yang
jauh dari nilai-nilai dan tujuan awal .
Mana mungkin para santri lebih tertib dan indah dalam beribadah, jika kenyataannya begitu seperti pepatah
mengatakan tiada gading yang tak retak artinya manusia tidak akan memiliki
kesempurnaan, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Dan manusia tidak akan
terlepas dari salah, akan tetapi jika salah dalam pelanggaran itu di rencanakan
dan di tata rapi apakan tidak keluar sebagai kodrat manusia yang memiliki
fikiran.
Tentu ini yang harus menjadi sebuah perenungan bersama. Jika tidak ada
tindakan yang jelas dan perubahan maka harapan untuk beribadah yang kompatibel
s itu tinggal harapan dan akan menjadi mimpi di siang hari.
Tulisan ini mewakili derita rakyat, meski tidak tersampaikan semua
derita yang menyesakkan dada ini. Semoga tergugah dan terjadi perubahan. Amiiin
Menyakitkan rasanya, namun inilah kenyataan.