Sabtu, 14 Mei 2016



Para pengurus yang baru yang sedang di lantik
Pengurus Ubudiyah: Antara Prospek dan Realita

Banyak orang berlomba-lomba dalam kebaikan karena mereka ingin mencari ridho-nya. Komplimen  yang mereka sanjungkan sangat mewarnai corak islam, menyuguhkan resep ibadah semata mata hanya untuk kepada sang kuasa. Beribadah kepada Allah sangat kompatible sekali, apabila di lakukannya dengan khusuk dan ikhlas.
Tapi pada realitanya, setelah munculnya zaman teknologi  informasi yang mengurita di dunia ini. Orang orang sangat kompleksitas dan amburadul dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Entah mengapa, mungkin sikap extrem kemalasan yang terisolasi pada diri seseorang sangatlah mengakar.
Pada adat atau kebiasaannya pondok pesantren menghidangkan koersi ubudiyah untuk lebih tertib dan kordial dalam beribadah kepada Allah SWT.
Tugas ubudiyah tak lain adalah melaksanakan kegiatan rutinitas beribadah( Pengajiann,Pembacaan tahlil, Dzikir dll ).membersihkannya tempat ibadah, mengatur tertibnya beribadah kepada Allah SWT.
Ketika melihat sepintas tempat beribadah ( Mushollah ) wilayah jalaluddin ar-rumi, Ponpes Nurul Jadid, memang layak di adakan pengurus ubudiyah, seakan menjanji kan tidak ada persoalan dan berjalan begitu indah dan rindang.
Namun di balik indah dan rindangnya itu ada seribu penderitaan yang mencekik dan menusuk pada hati peserta didik. Mengapa demikian, coba kita lihat kondisi saat ini di wilayah tercinta, khususnya musholla, kita di paksa untuk mengikuti peraturan yang ada, akan tetapi penegak hukum ( pengurus ubudiyah ) melanggar peraturan tersebut tanpa ada sedikit risih dan tak bersalah menampakkan pelanggaran tersebut di depan para objek ( santri ) hukum.
Pengurus ubudiyah, tak ubahnya sebilah pisau, yang tajam kebawah namun tumpul ke atas. Hal ini bisa di lihat dari hari hari yang berlalu, pemandangan yang  tidak mengenakan mata  menjadi pandangan menu  utama dalam setiap pelaksanaan kegiatan ubudiyah. Terlebih kehadiran subuh, maghrib, dan isya ktia di paksa dan di jejali untuk tidak lambat dalam mengikuti kegiatan ubudiyah                 tersebut, akan tetapi pengurus ubudiyah malah menikmati hidangan hedonis dengan ngerumpi dan tidur-tiduran.
Sungguh hal ini sangat menyakitkan dan menyesakkan dada, belum lagi persoalan demonstrasi ubudiyah kepada siswa dengan acara memukul yang tidak benar di dalam musholla ketika kegiatan  sedang berlangsung. Mana ada pengurus ubudiyah seperti itu ?
Mengerikan dan menyakitkan kerasanya melihat kenyataan yang jauh melenceng dari tujuan dan harapan, semestinya menjadi dan memberikan tauladan yang baik, malah memberikan contoh yang  jauh dari nilai-nilai dan tujuan awal .
Mana mungkin para santri lebih tertib dan indah dalam beribadah,  jika kenyataannya begitu seperti pepatah mengatakan tiada gading yang tak retak artinya manusia tidak akan memiliki kesempurnaan, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Dan manusia tidak akan terlepas dari salah, akan tetapi jika salah dalam pelanggaran itu di rencanakan dan di tata rapi apakan tidak keluar sebagai kodrat manusia yang memiliki fikiran.
Tentu ini yang harus menjadi sebuah perenungan bersama. Jika tidak ada tindakan yang jelas dan perubahan maka harapan untuk beribadah yang kompatibel s itu tinggal harapan dan akan menjadi mimpi di siang hari.
Tulisan ini mewakili derita rakyat, meski tidak tersampaikan semua derita yang menyesakkan dada ini. Semoga tergugah dan terjadi perubahan. Amiiin
Menyakitkan rasanya, namun inilah kenyataan.


LAYAKNYA MENGHARAPKAN HUJAN DI MUSIM KEMARAU

               



           Tak ada salahnya kita membuka lembaran-lembaran silam tentang kisah yang sudah tertera dalam kitab suci al-quran, atau kita pernah mendengar ketika guru ngaji menceritakan tentang keberhasilan nabi muhammad, dalam membawa dan menyebarkan agama islam keseluruh penjuru dunia, sehingga  kita mampu menikmati betapa indahnya kehidupan dengan adanya islam.

            Masih ingatkah kita bagaiana beliau berjuang menyebarkan agama islam, berdakwah memberikan edukasi terhadap masyarakat di mekah secara bersembunyi, sampai-sampai beliau sering di olok-olok dan di lempari kotoran, demi menyebarkan agama islam keseluruh penjuru dunia.
            Tidak salah dalam buku yang di karang oleh orang barat Michael H.Hart, menempatka nama nabi muhammad sebagai orang terpengaruh nomer urut pertama, ini membuktikan pengakuan seluruh jagat raya tentang keberhasilan nabi muhammad menjadi sosok pemimpin yang berpengaruh.
            Memang beliau tidak terlepas dari pola perilaku dan karakter yang ada pada  diri rosul, sehingga tertanam betul empat sifat kenabian, shiddiq, amanah, tabligh, fathonah dan menjadi pijakan dalam mengambil keputusan dan tindakan beliau selama memimpin hingga beliau wafat.
            Berbeda terbalik dengan sistem pemimpin sekarang, terlebih pemimpin rakyat yang di kantor rakyat, mengatas namakan rakyat namun mencekik rakyat dan menyengsarakan rakyat dengan tindakan yang kotor.
            “kayaknya”, korupsi, kolusi, dan nipotisme adalah hal yang menjadi syarat untuk menjadi wakil rakyat, sehingga para wakil rakyat yang ada di kantor banyak yang melakukan dan meminati, untuk memperkaya diri sendiri. Subhanallah
            Dalam pancasila di sebutkan pada sila kelima yang berbunyi, keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, hanya menjadi semboyan saja dan layaknya mati suri, bahkan syafii maarif dalam tulisannya mengatakan, bahwa sila kelima sudah yatim piatu sejak awal. Ketidakadilan terasa dalam banyaknya undang-undang yang justru menggerogoti kedaulatan nasional dan melemahkan rakyat.
            Dan apa yang terjadi dalam sistem birokrasi negara kita, merembet kepada kebanyakan sistem yang berjalan di indonesia ini , tidak terkecuali sistem kepengurusan yang berjalan di Wilayah Jalaluddin Ar-rumi , yang terdiri dari kurang lebih 50 penegak hukum (pengurus) dan 150 an objek hukum (santri).
            Melihat sepintas, tempat ini memang layak di jadikan tempat menimba ilmu dan menggali potensi,melihat banyaknya program yang berjalaan dan komunitas yang ada di wilayah ini,seakan menjadikan tidak ada persoalan dan berjalan begitu rindang dan indah.
            Namun dibalik rindang dan indahnya itu, ada seribu penderitaan yang mencekik dan membunuh kretifitas para peserta didik.Mengapa demikian, coba kita lihat bahwa kita dipaksa untuk mengikuti peraturan yang ada, akan tetapi penegak hukum melanggar peraturan tersebut tanpa ada sedikit risih dan tak bersalah seperti tikus mencuri makanan.
            Penegak hukum, layaknya sebilah pisau,yang tajam kebawah namun tumpul ke atas.Hal ini bisa dilihat dari hari-hari yang berlalu,pemandangan yang meracuni mata menjadi pandangan menu utama dalam setiap pelaksanaan kegiatan, baik kegiatan wilayah maupun kegiatan pesantren,terlebih pengajian kitab yang di paksa dan di jejali untuk tidak lambat mengikuti kegiatan pengajian,akan tetapi penefgak hukum dan pengelolahnya malah menikmati pagi sore dengan sebatang rokok dan ditemani secangkir kopi.
            Amboi,sungguh hal ini sangat menyakitkan dan menyesakkan dada, belum lagi persoalan peegak hukum yang menikmati fasilitas dan besantai di perpustakaan yang di harapkan sebagai penunjang kretifitas dan potensi para santri bukan malah mendapatkan dukungan dari penegak hukum, akan tetapi mendapatkan hujatan dan desakan dalam melakukan aktivitas di dalam perpustakaan, karena tempatnya segera ingin di nikmati.
            Ini namanya bukan menunjang, akan tetapi menumbuhkan virus-virus dan membunuh kreativitas yang akan lahir dari tangan-tangan santri, padahal sesuai hasil keputusan rapat yang dilakukan pengurus perpustakaan bersama Gus Fayadl, putra dari KH.Malthuf Siraj, M.Ag, bahwa perpustakaan harus buka 24 jam,namun realitanya jauh dari harapan.
            Sangat mengerikan dan menyakitkan rasanya melihat kenyataan yang jauh melenceng dari tujuan dan harapan, seyogyanya menjadi danmemberikan suri tauladan yang baik, malah memberikan contoh yang tidak selayaknya untuk di tiru. Astaghfirullah
            Melihat kondisi diatas, ketidak adilan sudah meraja lela dan membabi buta . bayak santri mengharapkan keadilan tapi tidak sampai, bahkan itu dihiraukan , masuk telinga kanan namun keluar dari telinga kiri, layaknya mengharapkan hujan di musim kemarau. Menjamin bahwa hujan akan turun tapi karena musim kemarau masih tidak berganti  yang begitu panasnya sinar matahari menyengat ke kulit hingga kehatipun sama, maka apa yang di harapkan itu adalah percuma .
            Mana mungkin akan tercipta wilayah excellence yang di idamkan pembina, jika kenyataan di tangan kanan beliau malah melakukan yang tidak pantas di lakukan sebagai tangankanan pembina, harus kita akui bersama, tiada gading yang tak retak,memeng manusia tidah pernah sempurna dan tidak akan terlepas dari salah, tetapi  jika salah dalam pelanggaran yang di tatarapi apakan tidak keluar sebai kuadrat manusia yang memiliki akan pikiran.
            Tentu ini yang harus menjadi sebuah bahan perenungan bersama baik santri terlebih pengurus yang menjadi panutan,jika tidak ada tindakan yang jelas dan perubahan maka harapan untuk menjadi wilayah excellence, tinggal harapan dan akan menjadi mimpi di sore hari.
            Tulisan ini mewakili santri yang menderita meski tidak tersampaikan semua derita yang menyesakkan di dada. Semoga tergugah  dan terjadi perubahan. Aminnn...
            Menyakitkan rasanya, namun ini lah kenyataan. . . !!!
      Orang yang peduli terhadap wilayah