LAYAKNYA
MENGHARAPKAN HUJAN DI MUSIM KEMARAU
Tak ada salahnya kita membuka lembaran-lembaran silam tentang kisah yang sudah tertera dalam kitab suci al-quran, atau kita pernah mendengar ketika guru ngaji menceritakan tentang keberhasilan nabi muhammad, dalam membawa dan menyebarkan agama islam keseluruh penjuru dunia, sehingga kita mampu menikmati betapa indahnya kehidupan dengan adanya islam.
Masih ingatkah kita bagaiana beliau berjuang menyebarkan
agama islam, berdakwah memberikan edukasi terhadap masyarakat di mekah secara
bersembunyi, sampai-sampai beliau sering di olok-olok dan di lempari kotoran,
demi menyebarkan agama islam keseluruh penjuru dunia.
Tidak salah dalam buku yang di karang oleh orang barat
Michael H.Hart, menempatka nama nabi muhammad sebagai orang terpengaruh nomer urut
pertama, ini membuktikan pengakuan seluruh jagat raya tentang keberhasilan nabi
muhammad menjadi sosok pemimpin yang berpengaruh.
Memang beliau tidak terlepas dari pola perilaku dan
karakter yang ada pada diri rosul,
sehingga tertanam betul empat sifat kenabian, shiddiq, amanah, tabligh,
fathonah dan menjadi pijakan dalam mengambil keputusan dan tindakan beliau
selama memimpin hingga beliau wafat.
Berbeda
terbalik dengan sistem pemimpin sekarang, terlebih pemimpin rakyat yang di
kantor rakyat, mengatas namakan rakyat namun mencekik rakyat dan menyengsarakan
rakyat dengan tindakan yang kotor.
“kayaknya”, korupsi, kolusi, dan nipotisme adalah hal
yang menjadi syarat untuk menjadi wakil rakyat, sehingga para wakil rakyat yang
ada di kantor banyak yang melakukan dan meminati, untuk memperkaya diri
sendiri. Subhanallah
Dalam pancasila di sebutkan pada sila kelima yang berbunyi,
keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, hanya menjadi semboyan saja dan
layaknya mati suri, bahkan syafii maarif dalam tulisannya mengatakan, bahwa
sila kelima sudah yatim piatu sejak awal. Ketidakadilan terasa dalam banyaknya
undang-undang yang justru menggerogoti kedaulatan nasional dan melemahkan
rakyat.
Dan apa yang terjadi dalam sistem
birokrasi negara kita, merembet kepada kebanyakan sistem yang berjalan di
indonesia ini , tidak terkecuali sistem kepengurusan yang berjalan di Wilayah Jalaluddin Ar-rumi , yang terdiri dari kurang lebih 50 penegak hukum (pengurus)
dan 150 an objek hukum (santri).
Melihat
sepintas, tempat ini memang layak di jadikan tempat menimba ilmu dan menggali
potensi,melihat banyaknya program yang berjalaan dan komunitas yang ada di
wilayah ini,seakan menjadikan tidak ada persoalan dan berjalan begitu rindang
dan indah.
Namun
dibalik rindang dan indahnya itu, ada seribu penderitaan yang mencekik dan
membunuh kretifitas para peserta didik.Mengapa demikian, coba kita lihat bahwa
kita dipaksa untuk mengikuti peraturan yang ada, akan tetapi penegak hukum
melanggar peraturan tersebut tanpa ada sedikit risih dan tak bersalah seperti
tikus mencuri makanan.
Penegak
hukum, layaknya sebilah pisau,yang tajam kebawah namun tumpul ke atas.Hal ini
bisa dilihat dari hari-hari yang berlalu,pemandangan yang meracuni mata menjadi
pandangan menu utama dalam setiap pelaksanaan kegiatan, baik kegiatan wilayah
maupun kegiatan pesantren,terlebih pengajian kitab yang di paksa dan di jejali
untuk tidak lambat mengikuti kegiatan pengajian,akan tetapi penefgak hukum dan
pengelolahnya malah menikmati pagi sore dengan sebatang rokok dan ditemani
secangkir kopi.
Amboi,sungguh
hal ini sangat menyakitkan dan menyesakkan dada, belum lagi persoalan peegak
hukum yang menikmati fasilitas dan besantai di perpustakaan yang di harapkan
sebagai penunjang kretifitas dan potensi para santri bukan malah mendapatkan
dukungan dari penegak hukum, akan tetapi mendapatkan hujatan dan desakan dalam
melakukan aktivitas di dalam perpustakaan, karena tempatnya segera ingin di
nikmati.
Ini
namanya bukan menunjang, akan tetapi menumbuhkan virus-virus dan membunuh
kreativitas yang akan lahir dari tangan-tangan santri, padahal sesuai hasil
keputusan rapat yang dilakukan pengurus perpustakaan bersama Gus Fayadl, putra
dari KH.Malthuf Siraj, M.Ag, bahwa perpustakaan harus buka 24 jam,namun
realitanya jauh dari harapan.
Sangat
mengerikan dan menyakitkan rasanya melihat kenyataan yang jauh melenceng dari
tujuan dan harapan, seyogyanya menjadi danmemberikan suri tauladan yang baik,
malah memberikan contoh yang tidak selayaknya untuk di tiru. Astaghfirullah
Melihat
kondisi diatas, ketidak adilan sudah meraja lela dan membabi buta . bayak
santri mengharapkan keadilan tapi tidak sampai, bahkan itu dihiraukan , masuk
telinga kanan namun keluar dari telinga kiri, layaknya mengharapkan hujan di
musim kemarau. Menjamin bahwa hujan akan turun tapi karena musim kemarau masih
tidak berganti yang begitu panasnya
sinar matahari menyengat ke kulit hingga kehatipun sama, maka apa yang di
harapkan itu adalah percuma .
Mana
mungkin akan tercipta wilayah excellence yang di idamkan pembina, jika
kenyataan di tangan kanan beliau malah melakukan yang tidak pantas di lakukan
sebagai tangankanan pembina, harus kita akui bersama, tiada gading yang tak
retak,memeng manusia tidah pernah sempurna dan tidak akan terlepas dari salah,
tetapi jika salah dalam pelanggaran yang
di tatarapi apakan tidak keluar sebai kuadrat manusia yang memiliki akan
pikiran.
Tentu
ini yang harus menjadi sebuah bahan perenungan bersama baik santri terlebih
pengurus yang menjadi panutan,jika tidak ada tindakan yang jelas dan perubahan
maka harapan untuk menjadi wilayah excellence, tinggal harapan dan akan menjadi
mimpi di sore hari.
Tulisan
ini mewakili santri yang menderita meski tidak tersampaikan semua derita yang
menyesakkan di dada. Semoga tergugah dan
terjadi perubahan. Aminnn...
Menyakitkan
rasanya, namun ini lah kenyataan. . . !!!
Orang yang
peduli terhadap wilayah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar